Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Minggu, 26 Maret 2017  
 
 

Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Untuk dapatkan paten internasional : PCT buka jalan bagi negara berkembang
Suwantin Oemar

Jumlah permohonan paten internasional yang diterima oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) melalui Patent Cooperation Treaty (PCT) cenderung meningkat, mengingat fasilitas itu memiliki banyak keuntungan.

Selama ini fasilitas PCT itu lebih dimanfaatkan oleh negara maju seperti AS, Jerman, Jepang dan Inggris. Namun, belakangan ini jumlah permohonan dari negara berkembang mulai meningkat secara siginifikan.

Menurut data WIPO, pada 1997, jumlah permohonan paten dari negara berkembang yang memanfaatkan fasilitas PCT itu baru 680, tapi hingga tahun lalu jumlahnya mencapai 5.350 atau meningkat hampir 700 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Selama tahun lalu, permohonan paten dari India mencatat kenaikan 51,9 persen , disusul oleh Meksiko (19,6 persen ), Singapura (18,8 persen ) dan Korea Selatan (10,1 persen ). Meningkatnya pemanfaatan fasilitas PCT menunjukkan indikasi kuat bahwa strategi paten dalam persaingan bisnis meningkat.

Dunia usaha dari kalangan perusahaan multinasional sampai skala kecil akan menikmati keuntungan dari aset hak atas kekayaan intelektual (HaKI) seperti paten dan bersaing di pasar global.

Berdasarkan data dari WIPO, perusahaan yang paling banyak menggunakan fasilitas PCT untuk mendapat perlindungan hukum paten secara internasional adalah Koninklijke Philips Electronics N.V, Siemens Aktiengesellschaft, Robert Bosch GmbH, Telefonaktiebolaget Ericsson, Matsushita Electric Industrial Co. Sony Corporation, Nokia Corporation.

WIPO telah merancang satu sistem global untuk memfasilitasisasi mendapatkan perlindungan paten di banyak negara melalui PCT, tapi fasilitas itu hingga kini masih didominasi oleh negara maju.

Indonesia tampaknya masih jauh di urutan bawah jika dibandingkan dengan negara berkembang lain yang menjadi anggota PCT.

Hanya permintaan paten dari India dan Korsel yang cenderung meningkat. Hal itu menunjukkan bahwa penemuan teknologi di kedua negara tersebtu berkembang pesat, sedang Indonesia masih jauh di belakang.

Indonesia merafikasi PCT pada 1997 melalui keputusan presiden. Hingga 2002 tercatat 118 negara anggota PCT. Fasilitas PCT tersebut hanya terbatas bagi negara anggota.

PCT adalah suatu sistem global yang dirancang untuk memfasilitasi proses perolehan perlindungan paten di banyak negara.

Berdasarkan data, kebanyakan permohonan paten itu di bidang fisika 21,7 persen , kimia dan metalurgi (19,6 persen ), listrik (18,8 persen ), kebutuhan kemanusian (17 persen ), mechanical engineering, senjata (5,9 persen ), konstruksi (2,4 persen ) dan tekstil, kertas (1,3 persen ).

Ketika PCT diperkenalkan pada 1985, jumlah permohonan perlindungan internasional paten baru tercatat 7.095, dan angka tersebut kini terus meningkat lebih dari sepuluh kali lipat.

Tingginya permintaan perlindungan internasional atas paten melalui PCT menunjukkan indikasi kuat bahwa fasilitas jasa tersebut berguna dan membantu kalangan pengusaha atau inventor (penemu) individu.

Indonesia hendaknya lebih gencar melakukan promosi kepada para penemu dari kalangan swasta ataupun individu di dalam negeri tentang fasilitas PCT itu.

Tanpa upaya itu, maka fasilitas PCT hanya akan dimanfaatkan oleh negara maju, yang notabena memiliki akses informasi ke lembaga itu.

Manfaat PCT

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa manfaat fasilitas PCT bagi inventor individu atau kalangan swasta.

Dengan hanya mengajukan satu permohonan perlindungan internasional paten melalui PCT, maka inventor atau kalangan pengusaha swasta Indonesia bisa mendapatkan perlindungan hukum atas patennya di banyak negara sesuai dengan keinginan pemohon dengan syarat negara itu harus anggota PCT.

Cukup satu permohonan

Misalnya, inventor (penemu) atau perusahaan A ingin mendapatkan perlindungan paten di Jerman, Inggris, Amerika, Korea Selatan atau Jepang dsb, maka dia hanya cukup mengajukan satu permohonan melalui PCT, tidak perlu lagi mengajukan permohonan perlindungan paten ke masing-masing negara tersebut.

Dengan fasilitas PCT, biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan perlindungan internasional atas paten di banyak negara relatif murah serta hemat dari segi waktu bila dibandingkan individu atau pengusaha swasta mengajukan permohonan perlindungan paten ke masing-masing negara.

Sekarang terpulang kepada inventor atau perusahaan dari Indonesia untuk memanfatkan fasilitas tersebut, apakah paten yang akan dimintakan itu memiliki nilai ekonomi tinggi atau tidak.

Yang jelas semua fasilitas dan sarana sudah tersedia, tinggal memanfaatkannya, mengingat Indonesia sudah relatif lama menjadi anggota PCT.

Meskipun fasilitas tersebut memiliki banyak kemudahan dan keuntungan, namun PCT juga memiliki kelemahan a.l, International Pleminary Examination Report (IPER) yang diterbitkannya tidak bersifat mengikat.

Jadi, hak untuk menolak atau mengabulkan permohonan permintaan paten tetap berada di negara masing-masing. Artinya, tidak otomotis setelah mendapatkan IPER, maka negara dimana kita minta perlindungan paten akan mengabulkannya, semua berpulang kepada negara itu masing-masing.

Sumber : Bisnis Indonesia (16 April 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 11 April 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI