Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Minggu, 26 Maret 2017  
 
 

Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Membangun Industri dengan Intellectual Capital
Marsudi Budi Utomo

Beberapa lembaga riset lokal seperti Danareksa Research Institute, INDEF, LPEM-UI, dan Mandiri Sekuritas, pada umumnya optimistis bahwa perekonomian Indonesia 2005 akan makin tumbuh lebih tinggi dibanding 2004. Hasil penelitian institusi ini juga mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia 2005 akan ditandai antara lain oleh laju inflasi yang masih bisa dikendalikan (7 tingkat suku bunga tergolong rendah (suku bunga Sertifikat Bank Indonesia, SBI 1 bulan, di kisaran 8 dan nilai tukar rupiah yang relatif stabil (Rp9.000 per dolar AS). (Warta Ekonomi, 10 Maret 2005).

Pada kenyataannya sebagaimana Umar Juoro (Republika, Senin, 25 April 2005) yang menyampaikan kegamangannya atas stabilitas ekonomi makro, ternyata pada saat pertumbuhan ekonomi baru mencapai sekitar 5 persen (laporan BPS menyebutkan 5.1 ada kwartal ketiga 2004), inflasi sudah meningkat lagi menjadi 8,8 persen (per tahunnya). Ditambah lagi dengan pelemahan nilai rupiah, membuat BI harus menaikkan SBI menjadi 7,7 persen. Jika kecenderungan SBI terus meningkat, maka perbankan juga akan menaikkan suku bunga pinjamannya yang akan menghambat perkembangan ekonomi.

Tingkat inflasi dan suku bunga serta stabilitas nilai rupiah, yang diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk menyerap tenaga kerja, ternyata tidak demikian kejadiannya. Thus, bisa dikatakan tidak terjadi pertumbuhan industri yang bisa memberikan ladang kerja baru kepada tenaga kerja produktif selama tahun lalu. Dan ini adalah kenyataan yang harus dihadapi bersama oleh pemerintah dan rakyat.

Shifting produksi ke teknologi

Tidak dipungkiri bahwa di sektor riil, pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh kestabilan industri nasional. Sebaliknya, majunya industri ditengarai dengan penyertaan modal baik dalam negeri maupun luar negeri, berupa saham maupun kredit jangka menengah panjang.

Kita bisa mengaca pada keberhasilan Taiwan, sebuah negara kecil dengan penduduk tidak lebih dari 22 juta bisa membangun industri dalam negeri berbasis high-tech. Bahkan Amerika dan Japan harus mengakui keunggulan microchip dan memory buatan Taiwan. Juga dari keberhasilan pendahulunya Korea maupun Jepang. Pertumbuhan ekonomi mereka didukung oleh kekuatan industri nasional berbasis teknologi yang mampu bersaing di pasar global sehingga bisa membatu penambahan angka GDP secara signikan.

Di dalam mengembangkan hitech nasional, perlu dibuat peluang dan suasana yang kondusif bagi PMA untuk investasi industri di Indonesia. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan, bahkan pemerintah sudah menyediakan kluster industri di beberapa daerah pengembangan. Hanya saja, semua industri tersebut di atas hanya sanggup menjadi industri berbasis produksi (production based industry). Sehingga lebih menguntungkan PMA industri, karena bisa leluasa memakai tenaga kerja produktif lokal dengan gaji murah dibanding standar UMR internasional.

Kegagalan mendapatkan cipratan teknologi dari PMA industri untuk pengembangan teknologi nasional, bisa disebabkan dari beberapa hal berikut.

Pertama, belum adanya cetak biru industri dan teknologi Indonesia jangka panjang. Kebijakan industri dan teknologi tidak masif, sehingga selalu silih berganti sesuai sistem kekuasaan. Pun demikian, tidak dilakukan proses sosialisasi yang sanggup memberikan arahan strategis industri dan teknologi nasional.

Sebagai contoh, Canada memiliki cetak visi industri yang mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Seperti yang dirilis dalam Strategy 2003-2006, Industri Canada diharapkan mampu mencapai outcome berupa Innovation toward Sustainable Development, Corporate and Community Sustainability dan Capacity Building within Industry Canada (Sustainable Development Strategy 2003-2006, Cat. No.:Iu4-55/2003E-HTML, ISBN: 0-662-35133-9)

Kedua, meniru dari keberhasilan China, yaitu dengan membuat regulasi agar setiap industri memberikan sharing minimal 30 ari asetnya baik berupa SDM maupun dana untuk kegiatan new developmet dan design produk dengan keharusan menyertakan tenaga kerja lokal. Sehingga ketika ada perusahaan asing yang mendirikan pabrik di Indonesia, harus memiliki komitmen paling tidak 30 taf lokal untuk kegiatan R&D dan design. Staf lokal ini akan ditempatkan di dalam negeri maupun di luar negeri tempat PMA berasal.

Dengan kebijakan ini, PMA industri tidak lagi beroientasi industri untuk produksi saja, tetapi mendorong shifting menuju industri berbasis teknologi (technology based industry). Dengan kebijakan ini, proses alih teknologi juga berjalan efektif.

Pembelajaran kebijakan ini bisa dilihat dari perusahaan sepeda motor vespa Piagio yang akan invest dan produksi untuk memenuhi pasar China harus menerima konsekwensi untuk membagikan 30 aham teknologinya kepada perusahaan lokal. Ini berarti diberlakukan kebijakan alih teknologi dengan dukungan regulasi yang jelas dari pemerintah China.

Industri berbasis knowledge society

Shifting industri berbasis produksi ke industri berbasis teknologi tidak tercapai apabila tidak didukung dengan intellectual capital yang memadai. Dengan kata lain, seperti disampaikan oleh begawan intelektual industri Peter F. Drucker, adalah kemampuan dalam membentuk masyarakat terpelajar atau intellectual society. Cakupan masyarakat terpelajar ini adalah setiap rakyat yang menjadi tanaga kerja produktif maupun yang akan menjadi tenaga kerja produktif. Juga industri yang menjadi gugusan (kluster) industri dan tenaga kerja. Intelektualis industri Jepang, Nakano Ikujiro, memperkenalkan SECI model untuk membentuk masyarakat intelektual. SECI model ini adalah siklus yang terdiri dari sosialisasi, ekternalisasi, kombinasi dan internalisasi. Siklus ini berputar mengikuti putaran spiral, sehingga kadar intelektual berupa pengalaman dan ilmu tersebut semakin bertambah.

Bila ini diterapkan dalam proses pembentukan masyarakat intelektual untuk mendukung shifting industri berbasis teknologi seperti yang dipaparkan di atas, maka akan terjadi proses spiral dalam transfer teknologi di industri dan peningkatan pengalaman industri nasional. Sehingga dalam kurun waktu tertentu yang dibatasi oleh kebijakan pemerintah, industri akan bergerak dan maju secara serempak. Bergerakan industri ini didukung dengan kemajuan pengalaman intelektual tenaga kerja nasional (intellectual capital).

Tantangan dan harapan

Industri nasional tidak bisa berjalan tanpa dukungan pertumbungan ekonomi makro yang sehat, terutama kestabilan dunia perbankan. Sebaliknya, peningkatan pendapatan domestik bruto (PDB) tidak meningkat tanpa ada pertumbuhan riil di sektor industri. Tarik ulur dua kutub ini tidak akan berhenti. Sehingga dibutuhkan komitmen sekaligus disiplin dalam pembentukan masyarakat industri yang susuai dengan skala ekonomi, dalam koridor Ń‘cope°¶ekonomi, dan seirama dengan kecepatan ekonomi nasional.

Ini menjadi tantangan sekaligus harapan, menyikapi kemelut meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang tidak didukung oleh penurunan inflasi dan penyerapan tenaga kerja. Selamat membangun era baru industri Indonesia.

Sumber : Berita IPTEK (16 Mei 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 24 Mei 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI