Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Senin, 11 Desember 2017  
 
 

Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Pilihan Komputasi
red

DUNIA teknologi komunikasi informasi di Indonesia sekarang tampaknya mengalami berbagai permasalahan serius yang perlu dicarikan penyelesaian segera, khususnya persoalan lisensi perangkat lunak yang digunakan berbagai warung internet (warnet), serta nasib program IGOS (Indonesia Goes Open Source) yang "bisa mati" sebelum berkembang karena kesepakatan Memorandum of Understanding antara Ditjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) dengan Microsoft Indonesia.

Nasib warnet yang berguguran setelah digerebek polisi karena menyalahi penggunaan perangkat lunak yang tidak memiliki lisensi, umumnya lisensi aplikasi buatan Microsoft, adalah persoalan lama yang terus-menerus muncul. Sampai sekarang, berbagai aktivis warnet berupaya untuk mencari solusinya, namun tidak ada yang bisa memuaskan semua pihak dan melawan "si raksasa" Microsoft.

Yang kita khawatirkan adalah warnet, yang tersebar di mana-mana dan menjadi pilihan murah bagi orang-orang untuk mengakses jaringan internet, akan menghambat laju penetrasi teknologi komunikasi informasi yang memang sudah terpuruk dan tidak mendapat dukungan penuh pemerintah yang setengah hati dalam merumuskan kebijakan dasar pembangunan teknologi komunikasi informasi ini.

KITA sendiri tidak memiliki prasangka terhadap Microsoft yang memang produk-produknya dibajak habis-habisan di negara ini. Namun, ketika Ditjen HAKI menjadikan Microsoft sebagai penasihat di bidang teknologi informasi, kita pun terheran-heran. Ada dua hal yang menjadi pertanyaan, apakah di negara ini tidak ada penasihat bidang teknologi informasi yang bisa digunakan oleh Ditjen HAKI. Pertanyaan lainnya adalah bukannya deklarasi IGOS ini merupakan kesepakatan lima menteri, termasuk Menteri Kehakiman dan HAM yang membawahi Ditjen HAKI?

Bagi orang awam, tidak banyak yang mengetahui apa itu IGOS. Sosialisasi program IGOS untuk menjadikan aplikasi open sources, seperti Linux sebagai pilihan dalam aktivitas komputasi sehari-hari, memang nyaris tidak ada sama sekali. Bahkan, perguruan tinggi sekali pun hanya terbatas pada penggunaan orang-orang tertentu saja.

Kita mendukung IGOS bukan karena bersikap anti-Microsoft. Tapi, lebih pada adanya pilihan meluas dan merata bagaimana cara kita melakukan komputasi sehari-hari. Dan cara paling sederhana sekarang ini, misalnya, menggunakan OpenOffice untuk keperluan pengolah kata dan angka.

Kita sendiri berharap, pilihan melakukan komputasi dan mengembangkannya menjadi sistem teknologi komunikasi informasi di negara ini tetap terbuka. Dan, mungkin sekarang sudah saatnya kita tidak berbicara lagi, tapi menerapkan secara meluas dan merata kenapa harus mendukung IGOS.

Dibutuhkan banyak relawan yang mau memperkenalkan dan melatih kegunaan dan manfaat penggunaan open sources ini. Artinya memperluas kesempatan dan ketersediaan berbagai aplikasi ini. Ketersediaan ini pun tidak hanya ditujukan pada sisi bisnis saja, tapi juga masyarakat umumnya untuk bisa secara mudah mengakses berbagai aplikasi terbuka yang menjadi sebuah pilihan yang murah.

Sumber : Kompas (30 Mei 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 20 Juni 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI