Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Kamis, 24 Agustus 2017  
 
 

Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Prosedur Hak Paten Lama Hambat Produksi Perajin
yas

Dinas Perindustrian Provinsi Bali dan beberapa perajin mengeluhkan masih panjang dan lamanya birokrasi dalam prosedur pengurusan merek dan rancangan yang merupakan bagian dari hak atas kekayaan intelektual. Alasannya, panjangnya birokrasi tersebut menghambat produksi kerajinan.

"Selain menghambat produksi, hal itu juga menghambat sehingga para perancang kerajinan menjadi malas berkarya. Padahal, masyarakat Bali merupakan orang-orang kreatif," kata Kepala Subdinas Perindustrian Provinsi Bali I Nyoman Suwirya Patra, Selasa (14/6).

Menurut Suwirya, apabila prosedur tersebut dapat diperpendek, hal tersebut dapat membantu industri-industri di Bali, terutama yang berbasis pada buatan tangan. Ia mengatakan, dinas perindustrian sempat mengalami kesulitan menyosialisasikan hak paten rancangan dan merek kepada perajin dan pengusaha di Bali pada 2001.

Kini, lanjut Nyoman, mereka sudah merasa penting mengurus hak paten tersebut. "Akan tetapi, hal itu menjadi percuma dan sia-sia jika pihak pengurus HAKI masih tidak memperbaiki dan mempercepat birokrasi," ujarnya.

Ia mencontohkan, prosedur pematenan suatu karya perajin bisa selesai sekitar setahun. Padahal, perajin butuh karya mereka segera dipasarkan. Idealnya, hak paten bisa keluar dalam sebulan. "Saat ini sudah zamannya teknologi canggih. Seharusnya bisa lebih cepat," ungkapnya.

Selain panjangnya prosedur, Nyoman juga mengeluhkan biaya pengurusan yang serba tidak pasti. Hal senada dikeluhkan Direktur Industri Perhiasan Perak Suarti, Dewa Purnadjaja Tamanbali, yang mengatakan sering dibuat kesal dengan prosedur pengurusan merek. "Lama sekali mengurusnya, bisa lebih dari setahun. Kami sungguh tidak mengerti mengapa begitu panjang prosesnya. Biayanya pun tidak pasti," ujarnya.

Karena lamanya, produksi perhiasan perak Suarti terpaksa berhenti karena harus menunggu hingga merek itu selesai dipatenkan. Karena khawatir produksi menjadi terhenti, Dewa memutuskan menunda niatnya untuk mematenkan rancangan-rancangan mereka.

"Kami trauma dan malas saja jika harus seperti itu prosedurnya. Produksi kan harus tetap berjalan dan memenuhi pesanan pasar," ujar Dewa.

Suarti, industri perhiasan perak di Jalan Raya Celuk itu sudah berproduksi lebih dari 10 tahun. Sasaran pasarnya ke Jepang, Amerika, dan Eropa.

Keluhan tersebut juga diungkapkan beberapa perajin perhiasan perak di sekitar Jalan Raya Celuk lainnya. Akibatnya, mereka kini memproduksi berdasarkan pesanan saja.

"Setiap kali mendapat pesanan, rancangan perhiasan tidak pernah dibuat lagi atau ditawarkan lagi. Itu saja yang dapat kami lakukan untuk menjaga keaslian rancangan," kata seorang pengurus salah satu perajin perak di Celuk.

Pada waktu lalu perajin bangga apabila rancangan dan karya perhiasan perak mereka ditiru perajin lainnya. "Alasannya sederhana, masing-masing perajin di Bali memiliki kekhasan dalam berkarya. Jadi tidak sama persis," kata Dewa. Namun, kini mereka sadar perlunya melindungi karyanya.

Sumber : Kompas (15 Juni 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 20 Juni 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI