Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Kamis, 19 Oktober 2017  
 
 

Hak atas Kekayaan Ilmiah :
» daftar fenomena

Pemkab Pernah Mempatenkan Batik Banyumasan
red

PURWOKERTO -- Agar tidak terjadi pemalsuan batik Banyumasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) pernah mencoba mempatenkan produk tersebut. Namun pihak Direktorat Jenderal Hak Paten Kanwil Depkeh dan HAM Jateng di Semarang menolak dengan alasan segala macam produk yang menjadi budaya bangsa tidak bisa dipatenkan.

"Kita pernah melakukan upaya paten beberapa tahun lalu. Namun dari Haki menolak dengan alasan batik telah menjadi budaya bangsa," kata Kepala Sub Dinas Bina Industri Disperindagkop, Indrawati kepada wartawan, Sabtu lalu.

Indrawati sejak awal sudah memperkirakan bila batik Banyumasan akan diproduksi oleh daerah lain sebagaimana produk batik dari Solo, Yogyakarta dan sebagainya. Apalagi setelah munculnya surat edaran (SE) Bupati HM Aris Setiono yang mewajibkan 8.000 Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengenakan pakaian batik pada hari Sabtu, berpotensi menimbulkan pemalsuan.

Sekalipun batik Banyumasan telah dipalsukan, namun Indrawati yakin produk masyarakat perajin di kota Banyumas masih jauh lebih bagus. Baik dari motif batik sampai kualitasnya tetap unggul. Menurutnya, batik Banyumasan umumnya dibuat melalui cap dan tulis. Karena menggunakan tenaga tangan, maka harganya jauh lebih mahal. Ia mencontohkan untuk kain batik cap harganya bervariasi antara Rp 50-100 ribu sedang yang tulis diatas Rp 400 ribu.

Sedang kain batik Banyumasan buatan Pekalongan, Indrawati yakin bukan terbuat dari cap atau tulis tapi mesin printing. Karena menggunakan mesin printing maka pembuatannya bisa cepat dan ongkosnya jauh lebih murah. Tetapi kelemahan dari kain batik ini, tidak tahan lama. "Beberapa kali dipakai warna batiknya sudah pudar. Coba saja bandingkan dengan batik Banyumasan yang asli lebih tahan lama," tegasnya.

Sebagamana diberitakan harian ini (Republika 29/5), seruan Bupati HM Aris Setiono agar semua PNS Banyumas memakai kain batik Banyumasan tiap hari Sabtu ternyata telah memunculkan tindak pemalsuan. Sejumlah motif batik Banyumasan kini dapat ditiru oleh para perajin dari daerah Pekalongan.

Produk batik dari pantai utara, sepintas sama dengan produk aslinya. Bahkan untuk harganya jauh lebih murah. Kain batik versi Pekalongan ini hanya dijual antara Rp 30-35 ribu/potong. Sedang kain batik yang aslinya harganya diatas Rp 50 ribu.

Padahal seruan bupati yang tertuang dalam surat edaran (SE) itu dimaksudkan untuk mengairahkan produk batik Banyumasan yang semakin hari makin suram. SE bupati merujuk pada surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tanggal 30 Juli 2003 Nomor 233/M.PAN/07/2003. Dalam surat menteri itu dikatakan, perlunya meningkatkan produksi dalam negeri terutama produk daerah. Sementara dalam surat edaran Bupati dinyatakan bahwa penggunaan pakaian batik sebagai pakaian kerja merupakan salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Banyumasan.

Salah seorang pedagang batik Pekalongan bernama Ny Ningsih mengungkapkan, batik Banyumasan buatan perajin di Pekalongan dari segi harga cukup murah. Selain itu, secara sepintas produk keduanya tidak ada bedanya. Bahkan agar tidak adanya bedanya, hasil akhir pembuatan batik tersebut diberi malam guna mempertahankan kualitas warnanya. "Kalau orang awam akan sulit membedakan mana yang Pekalongan dan Banyumas," tuturnya.

Namun dalam pandangan, Ny Enggar salah satu perajin batik Banyumasan, kualitas batik Pekalongan yang beredar di daerah ini kurang bagus. Karena menggunakan mesin printing maka hasil cetakan motifnya hanya pada muka saja. Berbeda dengan kain batik Banyumasan yang dicap bolak-balik. Diungkapkan, meski telah menjadi seragam kerja para PNS, namun lonjakan penjualan hanya mencapai 30 persen saja.

Mengomentari beredarnya batik Banyumasan buatan daerah lain, Bupati HM Aris Setiono mengaku tidak terlalu risau. Ia tetap berharap seluruh PNS membeli kain batik buatan masyarakat Banyumasan dan tidak tergiur membeli produk yang sama tetapi buatan daerah lain.

"Saya minta semua PNS menggunakan pakaian batik buatan lokal Banyumas, jangan tergiur harga yang murah. Kita perlu menolong para perajin agar budaya ini tidak hilang," ujar Aris saat berpidato di Kantor Kelurahan Sumampir, Purwokerto, Sabtu lalu (29/5).

Sumber : Republika (31 Mei 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 8 Januari 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI