Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Senin, 11 Desember 2017  
 
 

Hak atas Kekayaan Ilmiah :
» daftar fenomena

Tangan Yanto Ubah Sampah Jadi Miniatur
Handiman

MASIH ingat Prof. Dr. Ing H. B.J. Habibie, mantan Presiden RI ke-3 yang juga mantan menteri riset dan teknologi (menristek) dan direktur utama 25 perusahaan raksasa dan strategis?

Di meja kantor sang profesor itu terpajang puluhan miniatur dari berbagai jenis dan merek pesawat terbang kelas dunia. Beberapa diantara miniatur pesawat yang terbuat dari bahan kayu dan fibreglass itu merupakan salah satu karya perajin yang hidup sangat sederhana dari salah satu gang sempit di Kota Bandung, Purnomo.

Kali ini, miniatur kendaraan bermotor lainnya seperti motor besar Harley Davidson, BSA, BMW, mobil perang seperti Jeep Willis, mobil Formula 1 (F1) , juga hadir di Lembang. Uniknya, seluruh miniatur kendaraan itu dibuat dari barang bekas yang sudah tak terpakai seperti tutup odol, pasta gigi, sendok, garpu, kunci patah, bohlam lampu pijar, dan sebagainya.

Pencipta motor besar atau juga dikenal Motor Lembang itu tak lain seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) dari Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP) Lembang bernama Yanto Haryanto. Ketertarikan suami Tati Sundawati dan bapak dua orang putri serta seorang putra ini bermula ketika menyaksikan kegagahan motor Harley Davidson dan mobil Formula 1 (F1). Saking sukanya, dia kemudian mencoba membuat miniaturnya dari barang-barang bekas yang ada di rumahnya.

Jangan sejajarkan Motor Lembang ini dengan motor Cina (mocin) atau sepeda motor buatan Asia lainnya. Alasannya, motor yang difungsikan untuk hiasan plus itu dibuat dari bahan baku sampah baik sampah plastik, alumunium, atau produk lainnya.

Barangkali, di antara sampah itu ada kaleng bekas, minuman instan yang kita buang. Meskipun bagi kita tidak berguna, bagi Yanto Haryanto, barang-barang itu bisa menjadi sebuah karya seni yang luar biasa.

Hasil karya warga Jln. Repelita II, Lembang Kab. Bandung itu tak dinyana semakin lama semakin sempurna. Motor yang memliki rata-rata berat 1 kg, panjang 27 cm, itu terus mengalami perubahan yang signifikan dari waktu ke waktu. Padahal, Yanto baru menekuni hobinya itu dalam 7 bulan terakhir saja. Dalam waktu dekat Yanto akan berpameran tunggal untuk lebih mengenalkan produknya ke publik.

"Prinsip saya adalah sebuah hasil kerja yang berkualitas hanya akan lahir dari hati yang bersih. Karena itu, saya selalu berusaha mengerjakan miniatur motor tersebut secara profesional. Seseorang dapat memperoleh peurah (bisa) setelah melewati peurih (pedih). Begitu juga dengan saya, setelah terus mencoba, alhamdulillah, hasilnya bisa semakin baik," kata Yanto yang akan segera mendaftarkan karyanya pada Direktorat Jenderal Hak Atas Karya Intelektual (HAKI).

Miniatur motor itu sangat cocok jika dipajang di atas meja kerja para penggemar motor besar dan antik. Bahkan, motor-motor itu bukan saja bisa dijadikan sekadar pajangan, tetapi juga bisa bermanfaat ganda sebagai korek api, dudukan HP, tempat menyimpan rokok dan pena, dan sebagainya.

Meskipun motor besar pertama karya Yanto masih sangat statis, generasi berikutnya mulai dinamis, seperti roda yang mampu digerakkan. Setelah itu, generasi ketiga lebih luwes lagi karena selain rodanya bisa berputar, komponen lain seperti stang dan roda depan, sudah bisa belok ke kiri dan ke kanan. Generasi ke empat, motor-motor buatan putra Lembang yang aslinya berasal dari Sumedang itu dilengkapi komponen yang berputar cepat karena sudah dipasang komponen tambahan berupa rotor yang digerakkan baterai kering atau accu.

Menarik bukan? Ya hebatnya lagi semua miniatur motor besar itu per satu unitnya dibuat paling lama 9 jam dalam tiga hari. Jadi, per harinya hanya dikerjakan rata-rata 3 jam. Setiap unit motor sedikitnya memerlukan 75 komponen sampah. "Meskipun hanya sampah, sepanjang pandai mengolahnya, kita sebenarnya bisa membuat seribu satu kreasi yang bernilai tinggi. Itu aritinya bisa menciptakan lapangan kerja baru," katanya bersemangat.

Untuk satu unit motor besarnya, Yanto hanya memerlukan barang bekas semacam botol air mineral, baterai kecil, bohlam, tutup odol, antena radio rusak, hekter, tutup lem, tutup deodorant, kunci patah, kunci meja bekas, korek api gas, spidol, pembuka minuman instan, paku payung, kerokan jenggot, antena TV. Komponen lainnya bisa ditambahkan seperti karet sandal jepit, logo tas, tutup bedak, alumunium pengikat sabuk, sedotan, obeng, jepitan pena, tutup senter ultra merah, dudukan cutter, kunci kaca, dan sebagainya.

Bahkan, agar karyanya semakin baik, Yanto juga sering menambahkan barang bekas lainnya seperti rantai jam tangan, casing telepon genggam, gantungan tali, kancing, tutup sikat gigi, jepit rambut, pegangan daun pintu, sendok garpu, rotor kecil dari bekas alat elektronik, dan sampah lainnya.

"Meskipun sebenarnya sejumlah pencinta motor besar sudah ada yang menawar miniatur Harley Davidson dengan harga di atas Rp 20 juta dan sebuah produsen juga sudah mencoba menawar sebagai materi iklan TV maupun koran, saya belum melepasnya. Saya masih lebih konsentrasi untuk mengadakan pameran tunggal. Dari pameran itu diharapkan ada perusahaan motor yang bekerja sama untuk memproduksi motor yang sesuai rancangan saya," katanya.

Yanto terinspirasi melakukan itu karena seorang perancang motor dari Amerika, Tn. Davidson, dapat bekerja sama dengan perusahaan motor Harley sehingga menghasilkan motor yang melegenda yaitu Harley Davidson. Begitu juga dengan perancang mainan dari Jepang, Tn. Tamiya, yang juga menghasilkan mainan Tamiya yang sangat terkenal. Jadi, bukan tidak mungkin, rancangan Yanto pun kelak bakal mendunia. Apalagi, dia pun menyatakan siap untuk menciptakan rancangan model motor baru.

Sumber : Pikiran Rakyat (5 Agustus 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 22 Maret 2005

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI